Tamu Putus
Asa
BY:
ILFA NURFAUZIAH
Hari ini gue ingin menuangkan segala
kerisauan hati. Segala isi perasaan gue saat ini. Setelah terasa tidak ada lagi
yang mengerti perasaan gue, bahkan diri sendiri pun tidak bisa ngertiin sama
sekali, cuman menulislah yang dapat gue lakukan saat ini. Tulisan gue
sendirilah yang nantinya akan bisa menenangkan hati dan perasaan gue yang kacau.
Dengan menulis setidaknya apa yang menjadi beban derita bisa tertuangkan dan
terangkai dalam sebuah catatan sederhana seperti ini.
Gue udah ngga mau lagi berekspetasi
terlalu tinggi atas apa yang gue lakukan. Cukuplah sesederhana seperti ini saja
“Menenangkan”. Bahkan ekspetasi untuk catatan ini misalnya yang nantinya akan
di baca oleh orang banyak, akan di sukai khalayak umum, bahkan mengambisikan
diri sendiri sebagai seorang penulis, tidak akan. Gue tidak akan terlalu berambisi
seperti apapun itu. Let it flow. Gue akan melakukan kehidupan dengan semenerima
apapun yang Tuhan kasih buat gue.
Oh My Self, izinkan gue sekarang
untuk bersedih sesedih-sedihnya. Izinkan gue untuk jatuh sejatuh-jatuhnya. Gue
sedang berada di titik lemah selemah-lemahnya. Izinkan gue menikmati keputus
asaan yang sementara ini. Sebentar saja. Gue sudah tidak bisa lagi menerima
bentuk apapun nasihat, sebijak apapun kata-kata mutiara, sepeduli apapun orang-orang
terhadap gue. Gue sudah tidak bisa lagi menangkal keputus asaan ini. Bahkan
menahan tetesan air mata pun sudah tidak sanggup lagi My Self. Dan izinkan gue menangis
sejadi-jadinya.
Tenang My Self, keadaan ini hanya
sementara. Putus asa itu tamu yang mesti gue layani dengan baik. Gue Izinkan
dia masuk di ruang tamu kehidupan gue, gue akan berbincang dengan hati yang
paling rendah, menyuguhi dia dengan keyakinan yang gue punya yaitu keyakinan
terhadap TuhanYang Maha Esa Allah SWT. Keyakinan atas kehidupan
gue, atas apapun yang Tuhan kasih buat
gue. Gue akan bicara baik-baik. Bicara kalo gue punya semangat baru, gue akan
meraih kesuksesan yang gue inginkan tanpa hanya berekspetasi , gue akan berhasil
dari kegagalan yang pernah terjadi terhadap kehidupan gue sejauh ini, gue akan
punya kehidupan yang lebih indah. Nanti juga putus asa akan pamit dengan
sendirinya. Bisa diterima My Self?
Gue sudah tenang My Self. My Self dan menulis memang terbaik.
Terima kasih.

