Minggu, 30 Juni 2019



Tamu Putus Asa
BY: ILFA NURFAUZIAH

Hari ini gue ingin menuangkan segala kerisauan hati. Segala isi perasaan gue saat ini. Setelah terasa tidak ada lagi yang mengerti perasaan gue, bahkan diri sendiri pun tidak bisa ngertiin sama sekali, cuman menulislah yang dapat gue lakukan saat ini. Tulisan gue sendirilah yang nantinya akan bisa menenangkan hati dan perasaan gue yang kacau. Dengan menulis setidaknya apa yang menjadi beban derita bisa tertuangkan dan terangkai dalam sebuah catatan sederhana seperti ini.

Gue udah ngga mau lagi berekspetasi terlalu tinggi atas apa yang gue lakukan. Cukuplah sesederhana seperti ini saja “Menenangkan”. Bahkan ekspetasi untuk catatan ini misalnya yang nantinya akan di baca oleh orang banyak, akan di sukai khalayak umum, bahkan mengambisikan diri sendiri sebagai seorang penulis, tidak akan. Gue tidak akan terlalu berambisi seperti apapun itu. Let it flow. Gue akan melakukan kehidupan dengan semenerima apapun yang Tuhan kasih buat gue.  

Oh My Self, izinkan gue sekarang untuk bersedih sesedih-sedihnya. Izinkan gue untuk jatuh sejatuh-jatuhnya. Gue sedang berada di titik lemah selemah-lemahnya. Izinkan gue menikmati keputus asaan yang sementara ini. Sebentar saja. Gue sudah tidak bisa lagi menerima bentuk apapun nasihat, sebijak apapun kata-kata mutiara, sepeduli apapun orang-orang terhadap gue. Gue sudah tidak bisa lagi menangkal keputus asaan ini. Bahkan menahan tetesan air mata pun sudah tidak sanggup lagi My Self. Dan izinkan gue menangis sejadi-jadinya.

Tenang My Self, keadaan ini hanya sementara. Putus asa itu tamu yang mesti gue layani dengan baik. Gue Izinkan dia masuk di ruang tamu kehidupan gue, gue akan berbincang dengan hati yang paling rendah, menyuguhi dia dengan keyakinan yang gue punya yaitu keyakinan terhadap TuhanYang Maha Esa Allah SWT. Keyakinan atas kehidupan gue, atas apapun  yang Tuhan kasih buat gue. Gue akan bicara baik-baik. Bicara kalo gue punya semangat baru, gue akan meraih kesuksesan yang gue inginkan tanpa hanya berekspetasi , gue akan berhasil dari kegagalan yang pernah terjadi terhadap kehidupan gue sejauh ini, gue akan punya kehidupan yang lebih indah. Nanti juga putus asa akan pamit dengan sendirinya. Bisa diterima My Self?

Gue sudah tenang My Self. My Self dan menulis memang terbaik. Terima kasih.